Login Form



Follow Us

Poling

Bagaimana Menurut Anda Pelayanan Rawat Jalan Paviliun di RS Mata Cicendo?
 

Who's Online

 Tamu : 5 
Home
Cicendo Eye Hospital
Laporan Hasil Evalusi Kinerja Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung Tahun Buku 2014

 
Lebih Nyaman Tanpa Kacamata PDF Cetak E-mail

Cicendo LASIK Center akan membantu orang-orang yang ingin lebih nyaman tanpa kacamata. Kacamata memang merupakan alat bantu untuk memperjelas penglihatan seseorang dengan gangguan penglihatan (kelainan refraksi). Akan tetapi, pemakaian kacamata yang terus menerus ditambah dengan gangguan penglihatan dengan ukuran yang relatif besar membuat seseorang menjadi tidak nyaman. Gangguan penglihatan yang dimaksud terdiri dari minus (myopia), plus (hypermetropia), dan silindris (astigmatisma) dengan ukuran yang berbeda-beda.

LASIK merupakan prosedur untuk mengurangi atau menghilangkan minus, plus, maupun silindris. Sebelum tindakan LASIK dilakukan harus melalui prosedur skrining dan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain, usia minimal 18 tahun; tidak dalam kondisi hamil dan menyusui; kondisi kesehatan secara umum baik; untuk pemakai lensa kontak minimal telah dilepas selama 2 minggu (untuk lensa kontak lunak) dan 4 minggu (untuk lensa kontak keras).

Skrining adalah prosedur pemeriksaan pendahuluan sebelum tindakan LASIK. Hasil dari skrining meliputi, antara lain, tebal kornea dan kelengkungan kornea yang sangat menentukan dalam keberhasilan suatu tindakan LASIK. Keputusan bisa atau tidaknya pada seseorang dilakukan tindakan LASIK dapat diketahui bersamaan dengan keluarnya hasil skrining.

Setelah dokter LASIK menyatakan bahwa hasil skrining tersebut layak untuk dilakukan tindakan LASIK, maka tindakan tersebut bisa dilakukan pada hari yang sama dengan skrining atau pasien membuat janji dengan dokter LASIK maksimal 1 bulan setelah skrining.

Cicendo LASIK Center memiliki 3 teknik, yaitu 2 teknik dengan pembuatan flap (LASIK dan V-LASIK/FemtoLASIK) dan 1 teknik tanpa pembuatan flap/flapless (SMILE).

LASIK, yaitu prosedur LASIK dimana pembuatan flapnya menggunakan microkeratome
(link : https://www.youtube.com/watch?v=_ib5xM2wiTw )

V-LASIK/FemtoLASIK, yaitu prosedur LASIK dimana pembuatan flapnya menggunakan laser
(link : https://www.youtube.com/watch?v=QdJ98fnlO0Y)

SMILE , yaitu prosedur tindakan tanpa pembuatan flap/flapless
(link : https://www.youtube.com/watch?v=xmfE-4GTRO8 )

LASIK merupakan prosedur tindakan bedah yang aman dan efektif. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, antara lain, rasa tidak nyaman, seperti ada yang mengganjal atau seperti ada pasir; berair; sensitif terhadap sinar dan silau terutama malam hari

Untuk informasi lebih lanjut mengenai LASIK, dapat menghubungi Cicendo LASIK Center, Jl. Cicendo No. 4 Bandung, Tlp. 022 – 426 0464, pin BB 7D5D9966 & 7E7A343D

 

 
Wawancara RSM Cicendo - KARS - ISQua PDF Cetak E-mail

ISQua adalah satu-satu nya Lembaga Independen Non Profit yang mengakreditasi badan akreditasi. Akreditasi ISQua memastikan bahwa standar dan proses yang dilakukan oleh KARS untuk mengakreditasi Rumah Sakit di Indonesia sesuai dengan Standar Internasional untuk Lembaga Akreditasi.

ISQua sebagai lembaga akreditasi international, melakukan akreditasi pada lembaga KARS sebagai upaya untuk meningkatkan mutu layanan saat melakukan akreditasi di Rumah Sakit. ini adalah salah satu program yang harus dicapai oleh KARS pada tahun ini. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 2 – 6 Februari 2015. Adapun tim surveior ISQua adalah Triona Fortune, Lena Low, dan Gary Smith.

PMN RS Mata Cicendo yang pada Tahun 2014 memperoleh akreditasi KARS dengan nilai Paripurna bersama rumah sakit terpilih lainnya mendapat kehormatan dan kesempatan diwawancara secara langsung oleh tim surveior ISQua pada 4 Februari 2015 melalui Skype, dan mendapat apresiasi yang baik. Wawancara tersebut dihadiri oleh jajaran direksi PMN RS Mata Cicendo Dr. Hikmat Wangsaatmadja, SpM(K), MM, M.Kes (Direktur Utama), Dr. dr. Iwan Sovani, SpM(K), MM, M.Kes (Direktur Medik & Keperawatan), dan Drs. Setyo Budi Hartono, MM (Direktur Umum, SDM & Pendidikan).

 

 
World Glaucoma Week 2015 PDF Cetak E-mail

Sudahkah kita mengenal penyakit Glaukoma?

Glaukoma merupakan suatu kelainan atau penyakit syaraf mata yang progresif dengan tanda tanda utama hilangnya penglihatan secara perlahan lahan. Pada glaukoma, terjadi kerusakan syaraf mata yang fungsi utamanya adalah membawa informasi visual ke otak.

Pada penderita glaukoma, akan terjadi penyempitan luas lapang pandang dan dapat berakhir dengan kebutaan apabila tidak ditangani dengan baik.

Sebagian besar glaukoma terjadi tanpa gejala atau tanpa disadari oleh penderita. Sebagian besar dari jenis glaukoma dapat mengakibatkan kerusakan penglihatan yang semakin berat hingga menyebabkan kebutaan. Apabila hilangnya lapang pandang sudah terjadi maka tidak mungkin dapat diperbaiki lagi. Oleh sebab itu glaukoma dimasukkan kedalam kelompok penyakit 'silent blinding desease' atau sering disebut sebagai ' si pencuri penglihatan' .

Salah satu tanda yang khas adalah hilangnya penglihatan yang berlangsung perlahan lahan dari pinggir sampai ke tengah (lihat gambar ilustrasi) yang biasanya tidak disadari oleh penderita. Gejala umum antara lain sering tersandung atau memecahkan barang disekitarnya karena penglihatan yang terbatas bahkan sangat sempit seperti melihat dari lubang kunci. Tentu saja hal ini berbahaya apabila penderita tersebut mengemudikan kendaraan.

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan utama nomor 2 didunia termasuk di Indonesia. Diperkirakan 4,5 juta orang didunia menjadi buta akibat glaukoma dan angka ini akan menjadi 11,2 juta orang pada tahun 2020. Sehubungan dengan sifat penyakitnya yg progresif dan tanpa gejala, hampir 50 % penderita dinegara maju, tidak mengetahui menderita glaukoma terutama pada kasus glaukoma dini. Angka ini dapat mencapai 90 % di negara sedang berkembang termasuk Indonesia.

Ada beberapa tipe / jenis glaukoma. Salah satunya adalah glaukoma yang disebabkan oleh penyakit mata lainnya ( disebut glaukoma sekunder), akan tetapi mayoritas penyakit adalah glaukoma primer. Telah diketahui secara umum bahwa pada glaukoma biasanya disertai dengan tekanan bola mata yang tinggi sehingga tekanan bola mata yang tinggi ini dianggap merupakan suatu faktor risiko glaukoma. Meskipun demikian, ada juga penderita glaukoma yang mempunyai tekanan bola mata yang normal.

Faktor risiko selain tekanan bola mata yang tinggi adalah ras, riwayat glaukoma di keluarga, usia dan riwayat mata minus yang besar.

Beberapa jenis glaukoma dapat terjadi saat lahir atau selama kehamilan (kongenital) dan masa kanak kanak ( Juvenilis), akan tetapi kebanyakan kasus glaukoma terjadi setelah umur 40 tahun dan frekwensinya makin meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.

Jenis glaukoma terbanyak adalah Glaukoma primer sudut terbuka (primary open angle glaucoma), banyak dijumpai pada penderita ras Kaukasus dan Afrika. Jenis yang lainnya adalah Glaukoma primer sudut tertutup (primary angle closure glaucoma) yang sering ditemui pada ras Asia. Glaukoma sudut tertutup ini kadang bersifat akut dengan tanda tanda mata yang sangat nyeri bahkan disertai dengan penglihatan yang menurun mendadak.

Sampai saat ini tidak ada satupun obat yang dapat menyembuhkan glaukoma dan penglihatan yang hilang (buta) sifatnya menetap atau tidak dapat kembali normal seperti sebelumnya.

Pemberian terapi obat obatan maupun bedah termasuk laser, hanya dapat mencegah atau memperlambat kehilangan penglihatan. Oleh sebab itu, deteksi dini sangat penting dilakukan untuk membatasi hilangnya penglihatan dan mencegah progresifitas glaukoma agar tidak menjadi buta. Sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin agar kita tidak mengalami kehilangan penglihatan secara permanen akibat glaukoma minimal 1 tahun sekali.

Dalam rangka menumbuhkan kewaspadaan penyakit glaukoma diseluruh dunia, maka diadakanlah peringatan : “World Glaucoma Week” setiap tahunnya pada setiap bulan Maret. Untuk tahun ini, diperingati dari tgl 8-14 Maret 2015. Diharapkan dengan kegiatan ini, kita semua waspada terhadap penyakit si “pencuri penglihatan” ini, dengan cara mengetahui gejala dan tanda tandanya dilingkungan kita sendiri.

Beberapa kegiatan juga dilakukan di Indonesia termasuk di kota Bandung antara lain kegiatan penapisan / screening glaukoma di Balaikota Bandung tgl 13 Maret 2015.

Gambar ilustrasi tahapan kerusakan lapang pandang penderita glaukoma :

Lapang pandang orang normal

Lapang pandang penderita glaukoma dini

Lapang pandang penderita glaukoma lanjut

ditulis oleh :

Dr.Andika Prahasta Gandasubrata, dr, SpM(K), MKes

Kepala Sub Departemen Glaukoma FK Unpad / PMN RS Mata Cicendo Bandung

Kepala Departemen I Kesehatan Mata FK Unpad / PMN RS Mata Cicendo Bandung

Ketua Seminat Glaukoma Perdami (Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia) / Indonesian Glaucoma Society

 
Registrasi ARSAMI Cetak E-mail

Untuk Permohonan menjadi Anggota Asosiasi Rumah Sakit Mata Indonesia (ARSAMI), formulir dapat diunduh pada link berikut:

https://drive.google.com/file/d/0BwN19UVezXIDQ18wQ0RPUG5ENTg/view?usp=sharing

Setelah formulir diisi dan ditandatangan (cap institusi), hasil scan berupa pdf dapat dikirimkan kembali ke email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Untuk AD & ART dapat diunduh pada link berikut:

https://drive.google.com/file/d/0B0FdAnrP2BDAZTlpWjhURU9NanM/view?usp=sharing

Bila ada pertanyaan berkaitan hal diatas dapat menghubungi  Sekjen Arsami

Dr. Yudhaputra T, M.Kes (Sekjen ARSAMI) email : Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

 
« MulaiSebelumnya123456789BerikutnyaAkhir »

Halaman 1 dari 9


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.