Direksi dan seluruh karyawan Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H.......Mohon maaf lahir dan batin.......Pelayanan poliklinik reguler dan paviliun tutup mulai tanggal 9 - 13 September 2010........Buka kembali tanggal 14 September 2010.......Tanggal 9 dan 13 September 2010 dibuka poliklinik jaga........IGD buka 24 jam...
Informasi
Kunjungan kerja Menkes RI
12 Mei 2009

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Senin (11/5), melakukan kunjungan ke Rumah Sakit (RS) Mata Cicendo Bandung, guna melihat secara langsung pelayanan rawat jalan dan rawat inap, juga kelancaran program jamkesmas di RS Mata Cicendo.

Dirut  RS Mata Cicendo, dr. Kautsar Boesoirie dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Senin (11/5), menyebutkan RS ini merupakan satu-satunya RS khusus mata milik Depkes yang mempunyai fungsi memberikan pelayanan, pendidikan, dan penelitian di bidang kesehatan mata.

RS Mata Cicendo adalah RS mata khusus kelas A pendidikan yang berafiliasi dengan FK Unpad menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU).

RS yang didirikan hampir seabad yang lalu ini, memiliki misi awal untuk menanggulangi wabah trakoma dan xerophtalmia, kemudian berkembang menjadi RS khusus yang menanggulangi semua penyakit mata dan kebutaan.

?Pada tahun 1961, RS ini mulai digunakan oleh mahasiswa FK Unpad dan 1968 digunakan sebagai tempat pendidikan dokter spesialis mata dan mulai 2007 sebagai tempat pendidikan sub-spesialis mata,” katanya.

Melalui SK Menkes No. 1040/Menke/SK/XI/1992, RS Mata Cicendo ditetapkan sebagai RS rujukan mata nasional sehingga berbagai fasilitas dan kualitas pelayanan serta pendidikan mulai ditingkatkan.

Sejak 2002, dimulai peningkatan kualitas SDM, sarana dan prasarana.

Dikembangkan pula pusat pelayanan unggulan (center of exelence) seperti pediatrik optalmologi, vitreo-retina, optalmologi komunitas, glaukoma dan katarak bedah refraktif.

Kemudian diikuti dengan pengembangan pusat pelatihan optalmologi (opthalmology training center) dan pusat penelitian mata (opthalmology research center) melalui kerjasama dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri.

Kautsar mengungkapkan bahwa kebutaan masih menjadi masalah kesehatan di dunia maupun Indonesia. Prevalensi kebutaan di Indonesia sebesar 1,5%, dan penyebab utama kebutaan adalah katarak (0,78%), glaukoma (0,20%), kelainan refraksi (0,14%), dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan lanjut usia (0,38%).

Berdasarkan survei ini, didapatkan data bahwa kebutaan di pedesaan 1,7% lebih besar daripada perkotaan 1,1%. Insiden katarak sebesar 0,78% atau sekitar 210.000 orang per tahun. Sedangkan kemampuan melakukan operasi hanya kira-kira 80.000 orang per tahun. Akibatnya timbul backlog (penumpukan penderita) katarak yang memerlukan operasi.

“Penumpukan ini antara lain disebabkan daya jangkau pelayanan operasi yang rendah, kurangnya pengetahuan masyarakat, sulitnya menjangkau fasilitas kesehatan karena kondisi geografi serta ketersediaan tenaga dan fasilitas kesehatan mata yang masih terbatas,” ujarnya.

Menurutnya, RS Mata Cicendo sebagai UPT Depkes terus berupaya meningkatkan cakupan operasi katarak di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Melalui pusat pelayanan unggulan (center of exelence), di antaranya optalmologi komunitas, RS Cicendo bekerjasama dengan Perdami Jabar, Komisi Penanggulangan Gangguan Kebutaan (PGK) Jabar, LSM peduli mata Jabar dan berbagai pihak swasta melaksanakan pelayanan operasi katarak di dalam RS maupun di luar RS.

Kegiatan pelayanan operasi katarak di luar gedung RS dilaksanakan tidak hanya di Jabar tetapi juga di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.

(sumber: depkes.go.id)




Lihat Semua Informasi