Tatalaksana Ulkus Kornea yang Disebabkan oleh Methycillin-Resistant Staphylococcus haemolyticus (MRSH) PDF Cetak E-mail

Kerusakan kornea merupakan penyebab utama kebutaan monokular di dunia, terutama mengenai populasi marginalis. Kekeruhan kornea yang paling banyak disebabkan oleh keratitis infeksius merupakan penyebab kebutaan ke empat secara global dan merupakan penyebab 10% gangguan penglihatan yang dapat dihindari di negara-negara berkembang. Insiden ulkus kornea pada negara berkembang diperkirakan 100 hingga 800 per 100.000 orang per tahun. Menurut data infodatin tahun 2014, kebutaan yang disebabkan oleh kekeruhan kornea merupakan penyebab keempat kebutaan di Indonesia.

Ulkus kornea adalah keadaan patologis pada kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea dapat disebabkan oleh bakteri, jamur maupun virus.   Faktor risiko paling sering pada ulkus kornea bakterialis meliputi hal-hal yang dapat mengubah struktur permukaan kornea, seperti penggunaan lensa kontak, trauma (termasuk abrasi yang terjadi sebelumnya), operasi kornea, penyakit permukaan okular, penyakit sistemik, pengobatan okular yang terkontaminasi, dan immunosupresi yang dapat mengubah mekanisme pertahanan terhadap permukaan okular sehingga memungkinkan invasi bakteri terhadap kornea.

Manifestasi ulkus kornea terdiri dari kemerahan pada mata, nyeri dengan onset yang cepat, berair, fotofobia, bengkak pada kelopak mata, serta pandangan buram atau penurunan tajam penglihatan. Selain itu dapat juga timbul kotoran atau sensasi rasa mengganjal. Ulkus bakteri dapat terlihat pada pemeriksaan slit lamp sebagai infiltrat yang berbatas tegas, bisa terjadi di sentral maupun mid-perifer dari kornea. Batasnya biasa berbentuk bulat atau oval. Infiltrat stroma ditemukan berada didasar ulkus dengan penampakkan putih kekuningan. Pada kasus yang lebih berat, dapat ditemukan hipopion dan flare/sel +3 atau +4. Ulkus kornea dapat terjadi di area kornea mana saja, tetapi perlukaan pada sentral atau parasentral kornea berpotensi menjadi penyebab kehilangan penglihatan.

Ulkus bakterialis yang tidak tertangani atau berat dapat menyebabkan perforasi kornea dan berkembang menjadi endoftalmitis sehingga akhirnya kehilangan satu mata. Karena proses destruksinya yang cepat (dalam 24 jam ketika disebabkan oleh organisme yang sangat virulen), manajemen yang optimal membutuhkan pendeteksian yang cepat, pemberian terapi dan tindak lanjut yang tepat.  Terapi empiris pada ulkus kornea bakteri tergantung pada ukuran dan lokasi lesinya. Terapi empiris ini diberikan hingga patogen penyebabnya teridentifikasi dengan kultur.

Infeksi bakteri pada mata merupakan kondisi yang paling sering mengancam penglihatan. Beberapa kasus infeksi karena bakteri memiliki onset yang sangat cepat dan progresif menginflamasi stroma. Jika tidak segera tertangani dapat menyebabkan destruksi dengan perforasi kornea atau penyebaran infeksi ke jaringan sekitarnya. Bakteri yang paling banyak menjadi penyebab ulkus kornea adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus pneumonia, Streptococcus spp, Pseudomonas aeruginosa, dan Enterobacteriaceae sp. Meskipun organisme yang paling sering menjadi penyebab keratitis bakterialis termasuk staphylococci dan bakteri gram negatif batang (spesies Pseudomonas), penelitian-penelitian mengatakan berbeda dalam hal epidemiologi keratitis bakterialis. Perbedaan ini dapat dihubungkan dengan cuaca, area pedesaan atau area perkotaan, dan etiologi keratitis. Sebuah studi di Los Angles terhadap dua rumah sakit menemukan bahwa mayoritas kasus menunjukan patogen gram positif, yakni Staphylococcus koagulase negative yang paling sering, serta Pseudomonas aeruginosa yang menjadi penyebab tersering pada golongan bakteri gram negatif.

Simpulan

Ulkus kornea yang disebabkan oleh bakteri merupakan kasus yang sering ditemukan. Manifestasi klinis ulkus kornea bakteri adalah mata merah yang terasa perih, plak pada kornea berwarna putih yang disertai dengan defek epitel hingga stroma, serta infiltrat. Penegakan diagnosis yang tepat merupakan hal penting dalam menangani ulkus kornea bakteri, sehingga pemeriksaan kerokan kornea dengan pewarnaan gram serta kultur resistensi harus dilakukan agar pemilihan terapi obat yang diberikan efektif. Antibiotik topikal yang sesuai merupakan terapi lini pertama yang harus diberikan dengan tepat. Terapi ajuvan lainnya adalah steroid topikal dan agen sikloplegik. Apabila ulkus kornea telah menjadi perforasi, maka selain terapi medikamentosa diperlukan juga tindakan penambalan kornea yang ditujukan untuk menjaga integritas bentuk bola mata.

(oleh: Mia Nursalamah, dr / Angga Fajriansyah, dr, SpM, PMN RS Mata Cicendo / Ilmu Kesehatan Mata FK UNPAD)

 


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.