Login Form



Follow Us

Poling

Bagaimana Menurut Anda Pelayanan Rawat Jalan Paviliun di RS Mata Cicendo?
 

Who's Online

 Tamu : 4 
Home
Cicendo Eye Hospital
Pemeriksaan Kesehatan Kurangi Faktor Risiko Kecelakaan PDF Cetak E-mail

Setiap tahun, tradisi mudik jelang hari raya hampir pasti dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia. Peningkatan jumlah pemudik selalu diikuti dengan peningkatan jumlah risiko kecelakaan transportasi lalu lintas. Pada saat situasi khusus terdapat perpindahan massa dari kota ke daerah asal, misalnya saat mudik lebaran, liburan natal, tahun baru dan situasi khusus lainnya, sebagian besar menggunakan alat transportasi darat, salah satunya adalah bus umum.

Pemeriksaan kesehatan bagi pengemudi penting untuk mengurangi faktor risiko kecelakaan di jalan raya pada saat mudik lebaran, tutur Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, dr. Bambang Wibowo, Sp.OG (K), MARS, pada pembukaan Pertemuan Sosialisasi Kesehatan untuk Mencegah Faktor Risiko Kecelakaan Saat Mudik Lebaran 2016/1437 H, di Kantor Kemenkes RI di kawasan Kuningan Timur, Jakarta Selatan (8/6).

Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2004 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Angkutan Lebaran Terpadu menyatakan Kementerian Kesehatan berfungsi meningkatkan pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan yang ada pada tempat-tempat yang diperlukan pada jalur angkutan lebaran, yang mana salah satu pelayanan kesehatan yang dilakukan adalah pemeriksaan kesehatan pengemudi.

Pemeriksaan kesehatan akan dilakukan pada pengemudi yang memiliki jarak tempuh cukup lama setidaknya lebih dari 4 jam atau mempunyai rute yang padat dan sering, seperti  pengemudi bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Pemeriksaan kesehatan diberlakukan juga bagi pengemudi pengganti dalam satu armada tersebut.

Faktor pengemudi berperan penting dalam hal keselamatan penumpang, tandas dr. Bambang.

Kegiatan deteksi dini faktor risiko cedera akibat Kecelakaan Lalu Lintas Darat (KLLD) yang dilakukan berupa pemeriksaan tekanan darah, alkohol dalam darah melalui pernafasan, kadar amphetamine di urine dan kadar gula darah sewaktu.

Selain itu, perlu dilakukan sosialisasi kesehatan khususnya untuk manajemen PO bus dan pengemudinya untuk selalu menanamkan perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam upaya pencegahan faktor risiko kecelakaan di jalan raya khususnya dalam menghadapi arus mudik lebaran.

Masa pemantauan dan pelaksanaan kegiatan kesehatan arus mudik adalah pada H-12 sampai H+10 untuk angkutan darat, tambah dr. Bambang.

Kementerian Kesehatan turut mendukung kegiatan Dekade Aksi Keselamatan Jalan dengan target global (2020) menurunkan 50% fatalitas korban dengan cedera berat, dengan melakukan kegiatan 4 deteksi dini tersebut pada pengemudi angkutan umum sebagai salah satu upaya promotif dan preventif dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas dari kecelakaan lalu lintas darat.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, drg. Kartini Rustandi, M.Kes, menuturkan beberapa kegiatan penting yang telah dilakukan terkait kesiapan kesehatan dalam pemeriksaan kesehatan pengemudi pada Mudik Lebaran 2016 / 1437 H antara lain:

  • Melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi terkait pemeriksaan kesehatan kepada pengemudi di terminal, rest area dan fasilitas kesehatan sepanjang jalur mudik dan balik.
  • Menginstruksikan kepada Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk menyiapkan Pos Kesehatan di Bandara dan Pelabuhan.
  • Menyiapkan dan menyebarluaskan tips kesehatan untuk pengemudi agar aman dan selamat saat mudik Lebaran dalam bentuk spanduk, leaflet, standing banner dan buku saku kesehatan pengemudi.
  • Menyiapkan pemeriksaan kesehatan pengemudi bus, termasuk pemeriksaan kadar alkohol dan zat berbahaya lainnya. Ini dilakukan untuk keselamatan penumpang.

Kejadian kecelakaan lalu lintas darat mendominasi di antara jenis kecelakaan yang lain dengan proporsi sekitar 25% (WHO, 2004). Kejadian kecelakaan lalu lintas darat cenderung meningkat dalam jumlah maupun jenisnya dengan perkiraan angka kematian dari 5,1 juta pada tahun 1990 dan diperkirakan menjadi 8,4 juta pada tahun 2020 atau meningkat sebanyak 65%. Data Riskesdas (2007) menyebutkan bahwa prevalensi kecelakaan transportasi darat mencapai 25,9% dari seluruh penyebab cedera lainnya.

Bila membandingkan data Posko Operasi Ketupat tahun 2015 (Korlantas Polri) untuk kejadian kecelakaan saat mudik lebaran tahun 2014 dan 2015, terjadi penurunan jumlah kasus kecelakaan dari 3337 menjadi 3048, dengan jumlah kematian 722 kasus (2014) menjadi 646 kasus (2015).

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes
melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669,
dan alamat email kontak@kemkes.go.id.  (sumber : www.depkes.go.id)

 
M i t o s PDF Cetak E-mail

Getah Tanaman Nanangkaan

Pengobatan alternatif selalu menjadi pilihan masyarakat dalam mengobati penyakit yang dideritanya. Selain murah, yang sering di lakukan berobat secara alternatif biasanya menggunakan obat-obatan tradisional. Seperti yang sudah di lakukan N, 24 tahun “saya hampir tidak pernah berobat ke dokter,” ujar ibu 2 anak ini.

Mengobati anaknya, atau suaminya, N selalu memanggil “aki” yang menjadi langganannya. Termasuk N sendiri, ketika matanya mulai terasa pusing dan disertai dengan mual-mual. Bukan pergi berobat ke dokter, ia malah memanggil “aki” untuk segera datang kerumah.

Padahal mata N sudah minus 1 yang kiri, sedangkan mata kanannya minus 1,5 ditambah silindris. Pengobatan alternatif selalu menjadi pilihannya. Cara pengobatan yang dijalaninnya adalah dengan ditotok. Dipijit dan bagian-bagian yang pentingnya saja. Istilah dibuka syarafnya supaya lancar peredaran darahnya.

Semua jenis penyakit hampir sama cara pengobatannya. Tetapi ada beberapa bagian yang di pijat agak lama. Selain itu anjuran obat yang harus diminumpun berbeda-beda. Nah, khusus untuk mata pijatan yang paling lama pijatan yang paling lama pada bagian siku tangan. Sebelumnya, pijatan bagian kaki, paha, punggung, kepala, dst. Titik refleksi. Sudah dilakukan.

Jika sudah di pijat bagian lengan, mata N sudah mulai sehat. Tidak terasa pusing lagi. Bahkan sebaliknya kalau kacamatanya dipakai, terasa pusing dan buram. Tapi,itu hanya berlangsung beberapa hari saja, selebihnya kembali seperti semula, pusing, mual dan buram. “Tanpa kacamata, kalau melihat sesuatu itu harus memicingkan mata,” tegasnya .

Walaupun demikian, N tidak bosan-bosannya “berobat” kepada Aki. Dan ia juga selalu mengikuti anjuran dari Aki.

Beberapa waktu yang lalu, mata N terasa sakit juga disertai dengan pusing. Seperti biasa ia memanggil Aki. Usai dipijat.Aki Maman diberi segelas air minum yang sudah di jampi-jampi. Selanjutnya, N disarankan mencari tanaman Nanangkaan-Red Sunda. Getahnya di teteskan kemata. “Insya Allah, dengan getah itu, penyakit matanya akan hilang, lamad yang menghalangi mata akan hilang terkikis dengan getah nanangkaan tadi” tegas Aki.

Hendrapun sibuk mencari, tanaman tersebut. Jarang ditemukan, dan tidak banyak orang yang tahu tentang tanaman tersebut. Tetapi atas bantuan tetangganya, bisa juga ditemukan tanaman itu. Sudah hampir satu bulan N meneteskan getah tanaman itu pada matannya, tetapi hasilnya belum ada perubahan .

Karena bosan, cape dan tanamannya susah dicari, N pun menghentikan “pengobatan”nya. Padahal menurut aki, setelah tiga atau empat kali di tetes menggunakan getah tanaman itu, penyakit trahumnya akan sembuh. Buktinya, N sudah lebih dari 4x, tetap belum sembuh.
(sumber : Majalah MATA, PMN RS Mata Cicendo Edisi No. 02/2013)

 

 
Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Tahun 2016 PDF Cetak E-mail

Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo melaksanakan rangkaian kegiatan dalam rangka Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Tahun 2016, dimulai dari berpartisipasi dalam kegiatan puncak HLUN 2016 di halaman parkir barat Gedung Sate Provinsi Jawa Barat pada tanggal 2 Juni 2016. Dalam kegiatan tersebut dilaksanakan pemeriksaan mata dan konsultasi gizi.

Selanjutnya pada tanggal 3 Juni 2016 dilaksanakan puncak acara Peringatan HLUN 2016 di Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo Bandung. Kegiatan yang dilaksanakan dimulai dari senam jantung sehat, pemeriksaan gula darah dan tekanan darah, konsultasi gizi, pemeriksaan mata dan skrining retinopati, kunjungan direksi ke pasien lansia serta ditutup dengan Siang Klinik Retinopati Diabetika dengan narasumber Dr. dr. Iwan Sovani, SpM(K), MKes., MM.

Sesuai dengan tema HLUN 2016, Bersama Lansia, Dari Lansia, Untuk Lansia: Lansia sehat, lansia aktif, lansia produktif,  yang aktif dan produktif, diharapkan para lansia selalu sehat sehingga aktif dan produktif dalam menjalani berbagai aktifitas.

 

 
Cara Berhenti Merokok Mulai Ramadhan dan Seterusnya PDF Cetak E-mail

Konsumsi rokok dapat menyebabkan gangguan penyakit seperti gangguan pernapasan, gangguan kardiovaskuler (hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner), kanker serta gangguan reproduksi dan kehamilan, bukan hanya itu  tetapi juga biaya hilangnya hari atau produktivitas.

Selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan seseorang dengan niat yang ihklas dan motivasi yang kuat sudah terlatih untuk tidak merokok dari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari selama satu bulan penuh. Tentunya, perilaku yang baik ini diharapkan dapat dilanjutkan setelah bulan Ramadhan

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, dr. HM Subuh, MPPM, menyebutkan cara dan langkah  berhenti merokok serta tips berhenti merokok:

Cara pertama, berhenti seketika. Jika hari ini masih merokok, besok berhenti sama sekali. Cara ini yang besar kemungkinan berhasilnya.

Cara kedua, penundaan.  Tundalah saat merokok saat jam berbuka puasa. Misalnya, pada hari permulaan rokok pertama dihisap 1 jam setelah buka puasa. Pada hari kedua, rokok pertama dihisap 2 jam setelah buka puasa, dan seterusnya hingga hari ke empat berhenti sama sekali. Bila perlu, bisa juga masing masing  waktu dilakukan selama 2 hari, lalu 2 hari lagi bertahap mulai merokok lebih terlambat 1 jam, dan seterusnya sampai berhenti sama sekali.

Cara ketiga, pengurangan. Jumlah rokok yang dihisap setiap hari dikurangi secara berangsur angsur dengan jumlah yang sama sampai 0 batang pada hari yang ditetapkan.  Misalnya hari pertama 10 batang, lalu selang 1 atau 2 hari  turun jadi 8 batang dan seterusnya. Pola pengurangan rokok dan target tanggal berhenti menjadi nol sudah harus ditetapkan sejak dini dan tidak lupa untuk memberitahunkan kepada keluarga atau kerabat agar untuk membantu mengingatkan. Sebagai contoh, tanggal yang dipilih untuk memulai ialah pada 17 Ramadhan (Nuzulul Quran) atau tanggal ganjil pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Berhenti merokok memiliki banyak manfaat untuk kesehatan antara lain: perbaikan darah, denyut jantung dan aliran darah tepi  setelah 20 menit berhenti merokok. Jika berhenti merokok selama 15 tahun, maka risiko  jantung dan stroke turun ke tingkat yang sama dengan bukan perokok

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan email kontak@depkes.go.id. -

Sumber : http://www.depkes.go.id/

 
RAKER I ARSAMI, Seminar dan Workshop PDF Cetak E-mail

Bertempat di Pusat Mata Nasional RS.Mata Cicendo, pada tanggal 27 dan 28 Mei 2016 dilaksanakan rangkaian kegiatan seminar, workshop dan RAKER I Asiosiasi Rumah Sakit Mata Indonesia dengan tema "Eksistensi Pelayanan Mata di era JKN".  Acara ini dipimpin Ketua ARSAMI Dr. Hikmat Wangsaatmadja, SpM(K), M.Kes, MM dan dibuka oleh Direktur Utama PMN RS Mata Cicendo Bandung, Dr. Irayanti, SpM(K), MARS.  Kegiatan juga dihadiri oleh para anggota ARSAMI di Indonesia.

 
« MulaiSebelumnya12345678910BerikutnyaAkhir »

Halaman 4 dari 13


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.