Akurasi Formula Kekuatan Lensa Intraokular PDF Cetak E-mail

Hasil refraktif yang optimal pasca bedah katarak membutuhkan hasil dari biometri preoperatif dan formula kalkulasi kekuatan lensa intraokular (LIO) yang akurat. Prediksi dari hasil refraksi setelah bedah katarak sudah semakin berkembang dengan peralatan serta formula kalkulasi kekuatan lensa intraokular yang diperbaharui. Biometri dapat dibagi menjadi beberapa komponen yang dibutuhkan untuk menghitung kekuatan lensa intraokular yaitu panjang aksial, kekuatan kornea, dan posisi lensa intraokular. Formula kalkulasi kekuatan LIO sudah semakin berkembang dari generasi ke generasi dan masing-masing memiliki kelebihan pada kondisi tertentu.

 

Biometri

Panjang aksial

Panjang aksial bola mata merupakan komponen penting dalam kalkulasi kekuatan lensa intraokular. Panjang aksial bola mata dapat diukur dengan beberapa teknik. Data dari kedua mata perlu untuk diukur walaupun pembedahan hanya direncanakan untuk satu mata. Kesalahan 1 mm pada hasil pengukuran panjang aksial bola mata akan menghasilkan kelainan refraksi sekitar 2.35 D pada mata dengan panjang aksial 23.5 mm. Kelainan refraksi berkurang menjadi 1.75 D/mm pada mata dengan panjang aksial 30 mm dan meningkat sampai 3.75 D/mm pada mata dengan panjang aksial 20 mm.

A-Scan ultrasonography digunakan untuk mengukur panjang aksial dengan menggunakan dua jenis metode yaitu teknik imersi atau dengan metode kontak aplanasi. Teknik imersi menggunakan kerangka atau disebut shell yang ditempatkan pada mata diantara kelopak mata untuk membuat kondisi kedap pada kornea kemudian transduser dari ultrasound ditempatkan pada shell yang sudah diisi cairan imersi. Metode kontak aplanasi membuat transduser mengalami kontak langsung dengan kornea sehingga pemeriksa harus hati-hati untuk tidak terlalu menekan kornea, karena penekanan pada kornea dapat menyebabkan pemendekan hasil pengukuran panjang aksial. Kesalahan perhitungan menjadi penting dan signifikan pada pasien dengan hiperopia tinggi (panjang aksial 20 mm atau kurang), dimana setiap kesalahan 1 milimeter dapat menghasilkan ketidakuratan sampai dengan 3.75 D dari kekuatan lensa intraokular.

Pengukuran panjang aksial dengan menggunakan ultrasound merupakan suatu kalkulasi. Biometer ultrasonik mengukur waktu transit dari gelombang ultrasound. Software pada pada alat biometri akan mengukur panjang aksial bola mata dengan menggunakan data perkiraan kecepatan rata-rata gelombang yang melewati berbagai media okular (kornea, humor akuos, lensa, dan vitreus). Nilai yang didapat dapat berubah bila kecepatan gelombang melewati media yang tidak normal, sebagai contoh pada mata dengan silicone oil di posterior. Pemeriksa harus mempertimbangkan perbedaan kecepatan gelombang pada silicone oil dan vitreus (980 m/s dan 1532 m/s). Indeks refraksi dari silicone oil juga lebih kecil dibandingkan dengan vitreus sehingga perlu dimasukkan dalam perhitungan kekuatan lensa intraokular.

Biometer optikal juga merupakan salah satu alat untuk mengukur panjang aksial bola mata. Metode pengukuran ini baru diperkenalkan pada tahun 1999. Alat ini dinamakan IOLMaster, merupakan instrumen non-kontak yang menggunakan laser coherent interferometry untuk mengukur beberapa paramater seperti panjang aksial, kurvatura kornea, kedalaman kamera okuli anterior, jarak horizontal white-to-white (diameter kornea), dan melakukan kalkulasi kekuatan lensa intraokular dengan empat jenis formula modern generasi ketiga dan keempat. Pengukuran dengan optikal biometer dapat dipersulit dengan adanya sikatrik kornea, katarak matur atau subkapsular posterior, perdarahan vitreus, serta ketidakmampuan pasien untuk memfiksasi pandangan.

Kekuatan Kornea

Perhitungan kekuatan kornea merupakan faktor terpenting berikutnya setelah panjang aksial dalam formula kalkulasi LIO. Kesalahan 1.0 D pada perhitungan kekuatan korena akan menyebabkan kelainan refraksi post-operatif sebesar  1.0 D. Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menghitung kekuatan kornea adalah instrumen yang digunakan, astigmatisme, keratoconus, dan riwayat bedah refraktif sebelumnya. Keratometer manual hanya mengukur permukaan bagian depan kornea dan mengkonversi radius (r) kurvatura kornea yang didapat menjadi diopter (K) menggunakan indeks refraksi 1.3375. Corneal topography dapat memberikan gambaran kontur permukaan kornea serta kekuatan kornea dan berguna pada keadaan astigmatisme irreguler atau keratokonus dan adanya riwayat bedah refraktif kornea. Astigmatisme reguler bukan merupakan faktor dalam kalkulasi kekuatan LIO karena hasil dari prediksi refrkasi postoperatif merupakan spherical equivalent. Riwayat bedah refraktif kornea dapat merubah kontur kornea sehingga metode standar untuk mengukur kekuatan kornea akan menghasilkan nilai yang tidak sesuai (underestimated / myopia atau oversetimated / hyperopia).

Posisi Aksial Lensa Intraokular

Faktor ini pada awalnya disebut dengan anterior chamber depth (ACD) karena optik dari LIO pada era awal ditempatkan di depan iris, pada kamera okuli anterior. Terminologi yang baru adalah effective lens position (ELP) oleh Holladay. ACD didefinisikan sebagai jarak aksial antara dua lensa (kornea dan lensa atau LIO), atau jarak dari permukaan anterior kornea sampai dengan effective principal plane dari LIO (permukaan depan lensa kristalin). Nilai ini dibutuhkan untuk hampir semua formula dan merupakan bagian dari konstanta A yang spesifik untuk setiap LIO.

Posisi LIO sempat dianggap yang paling tidak begitu penting dari tiga variabel sebagai penyebab dari kesalahan perhitungan kekuatan LIO, namun pada 1998 Hoffer mendapatkan post operasi hari pertama LIO pasien dengan ACD yang dangkal dan myopia -2,50 D kemudian setelah 3 hari kamera okuli anterior menjadi lebih dalam 2,0 mm dan kelainan refraksinya menjadi plano sehingga faktor ini dianggap penting secara klinis.

Simpulan

Hasil refraktif yang optimal pasca bedah katarak membutuhkan hasil dari biometri preoperatif dan formula kalkulasi kekuatan lensa intraokular (LIO) yang akurat. Formula kekuatan LIO masing-masing memiliki keakuratan pada panjang bola mata tertentu sehingga penggunaannya dianjurkan untuk disesuaikan dengan masing-masing kondisi. Pemakaian formula dianjurkan untuk menggunakan formula dengan generasi terbaru seperti generasi tiga dan seterusnya serta perlu untuk dilakukannya optimisasi konstanta LIO. Formula Barrett Universal II merupakan formula yang memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi dibanding formula lainnya.

 

 

(oleh : dr. David Agung Hutabarat / Dr. dr. Budiman, Sp.M(K), M.Kes - PMN RS Mata Cicendo)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Hoffer KJ. Intraocular Lens Power Calculation. Dalam: Steinert RF, editor. Cataract Surgery. Edisi Ketiga. Elsevier: 2010. Hal 33-53.

2. AAO. Section 11 : Lens and Cataract. Dalam: Basic and Clinical Science Course. USA: American Academy of Ophthalmology; 2014. Hal 82-6.

3. AAO. Section 3 : Clinical Optic. Dalam: Basic and Clinical Science Course. USA: American Academy of Ophthalmology; 2014. Hal 200.

4. Hunter DG, West CE. Last-Minute Optics : A Concise Review of Optics, Refraction, and Contact Lenses. Edisi Kedua. New Jersey: SLACK Incorporated; 2010. Hal 65-70.

5. Hoffer KJ. IOL Power. New Jersey: SLACK Incorporated; 2011. Hal 133-43.

6. Kent C. IOL Power Formula: 10 Questions Answered. Review of Ophtalmology. Massachusetts. 2018 Januari: 25. Hal. 16-28.

7. Olsen T. Calculation of intraocular lens power: a review. Acta Ophthalmologica Scandinavica. 2007 Aug;85(5):472–85.

8. Narváez J, Zimmerman G, Stulting RD, Chang DH. Accuracy of intraocular lens power prediction using the Hoffer Q, Holladay 1, Holladay 2, and SRK/T formulas. Journal of Cataract & Refractive Surgery. 2006 Dec;32(12):2050–3.

9. Melles RB, Holladay JT, Chang WJ. Accuracy of Intraocular Lens Calculation Formulas. Ophthalmology. 2018 Feb;125(2):169–78.

10. Kane JX, Van Heerden A, Atik A, Petsoglou C. Accuracy of 3 new methods for intraocular lens power selection. Journal of Cataract & Refractive Surgery. 2017 Mar;43(3):333–9.

11. Retzlaff JA, Sanders DR, Kraff MC. Development of the SRK/T intraocular lens implant power calculation formula. Journal of Cataract & Refractive Surgery. 1990 May;16(3):333–40.

12. Asia-Pacific Association of Cataract & Refractive Surgeons. Barrett Universal II Formula. Diunduh dari : https://www.apacrs.org/barrett_universal2105

13. AAO. Cataract in the Adult Eye Preferred Practice Pattern. San Fransisco: AAO; 2016. Hal 20.

14. National Institute for Health and Care Excellence. Cataract in Adults: Management. UK: National Institute for Health and Care Excellence; 2017. Hal 8-9.

 

 


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.