Mata Anak Terpadu Retinoblastoma PDF Cetak E-mail

Setiap 60 detik, 1 orang anak di seluruh dunia menjadi buta. Diantara 80% dari penyebab kebutaan anak ini dapat dicegah. Bila tidak terdeteksi melalui pemeriksaan mata, maka jumlah kebutaan anak tersebut bisa menjadi dua kali lipat pada tahun 2020.

RED REFLEX (Refleks Merah)

Saat cahaya masuk ke mata melalui pupil, lapisan saraf mata (retina) akan menyerap sebagian besar cahaya. Sebagian kecil dari cahaya tersebut akan dipantulkan dari retina melalui pupil, berupa warna cahaya merah-jingga yang merefleksikan warna retina normal. Fenomena inilah yang disebut dengan Red Reflex (reflex merah). Red reflex paling mudah terlihat bila pengamat melihat secara dekat dengan menggunakan sumber cahaya atau misalnya pada saat lampu flash kamera diarahkan ke mata dan menimbulkan pantulan cahaya merah dari pupil. Pada kondisi Leukocoria, Red reflex ini tidak tampak atau tampak putih buka merah-jingga seperti yang normal seharusnya. Hal ini bermakna adanya suatu pantulan yang tidak normal dari mata.

LEUKOCORIA

Leukocoria berasal dari bahasa Yunani; Leuko yang berarti putih dan Core yang berarti pupil. Terkadang orang tua pasien mengeluhkan leukocoria ini dengan keluhan seperti “mata kucing”, yang akan lebih jelas pada kondisi ruangan redup/gelap atau pada saat difoto/terkena flash lampu kamera. Leukocoria (pupil putih) ini bukan hanya merupakan tanda bahaya yang mungkin dapat mengancam PENGLIHATAN tapi juga NYAWA/KEHIDUPAN. Oleh karena itu, tanda ini penting untuk dikenali dan diwaspadai segera, kemudian hendaklah secepatnya dirujuk ke dokter spesialis mata.

PENYEBAB LEUKOCORIA PADA ANAK

Beberapa penyebab leukocoria (pupil putih) pada anak diantaranya: katarak, retinoblastoma, Retinopathy of Prematurity, Persistent Fetal Vasculature, Coats disease, Toxocariasis, Coloboma choroid atau optic disc, Uveitis, dan perdarahan vitreous.

Katarak pada Bayi/Anak

Katarak adalah kekeruhan pada lensa yang dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan. Berdasarkan onset terjadinya, katarak pada bayi/anak ini dapat diklasifikasikan menjadi: (1). Katarak kongenital, yaitu katarak yang terjadi pada bayi sejak lahir, dan (2). Katarak developmental, yaitu katarak yang terjadi dalam tahun pertama kehidupan. Penanganan terhadap katarak pada bayi/anak ini pada umumnya adalah operasi segera, dilanjutkan dengan rehabilitasi penglihatan setelah operasi dengan kacamata.

Retinoblastoma

Retinoblastoma merupakan tumor ganas mata yang paling sering pada anak. Leukocoria (pupil putih) atau seperti “mata kucing” merupakan tanda klinis awal yang tersering ditemukan oleh orang tua atau orang-orang di sekitar pasien. Insidensi retinoblastoma berkisar 1:16.000 dan 1:18.000 kelahiran hidup. Penyakit ini bukan hanya mengancam penglihatan tapi juga nyawa/kehidupan.

Tumor ini berasal dari transformasi keganasan/maligna sel-sel retina primitif sebelum berdiferensiasi akhir. Biasanya timbul pada beberapa tahun pertama kehidupan sampai dengan usia 3 tahun. Pemeriksaan yang biasanya akan dilakukan oleh dokter spesialis mata sebagai pemeriksaan penunjang pada pasien dengan kecurigaan retinoblastoma antara lain Funduscopy, USG, CT-Scan/MRI. Terapi retinoblastoma tergantung stadiumnya, yaitu diantaranya: laser, kemoterapi, operasi enukleasi.

Retinopathy of Prematurity (ROP)

Retinopathy of Prematurity (ROP) merupakan suatu kelainan retina yang dapat terjadi pada bayi prematur dengan berat badan lahir <1500 gram dan atau usia kehamilan < 28 minggu. Salah satu faktor risiko lainnya untuk terjadinya ROP ini adalah pemberian oksigen konsentrasi tinggi dalam waktu lama.

Retinopathy of Prematurity (ROP) berisiko menimbulkan kebutaan pada bayi, sehingga diperlukan deteksi dini untuk mencegah kondisi tersebut. Pemeriksaan atau skrining/penapisan ROP berupa pemeriksaan retina mata pada usia 4 – 6 minggu pertama kehidupan oleh dokter spesialis mata dengan menggunakan alat funduskopi indirek. Deteksi dini pada bayi-bayi prematur atau yang berisiko ini sangat penting dan membutuhkan kerjasama dari dokter anak maupun bidan. Penatalaksanaan ROP tergantung dari stadium penyakit, dapat berupa observasi, laser, atau operasi retina pada stadium lanjut.

Persistent Fetal Vasculature (PFV/PHPV)

Kelainan ini umumnya hanya mengenai satu mata, merupakan kelainan pada masa pembentukan bola mata dimana terjadi kegagalan regresi vitreus primer/sistem hyaloid. Pasien sering datang dengan keluhan klinis leukocoria dan juling. Pemeriksaan mata yang biasanya dikerjakan meliputi funduscopy indirek dan USG. Kemungkinan kondisi penglihatan akan tergantung dari klinis kelainan yaitu mikroftalmia (bola mata pendek) dan keterlibatan polus posterior saraf mata.

Coats Disease

Merupakan kelainan vaskular retina idiopatik, berupa teleangiectasia dengan eksudasi intra dan subretina serta ablatio retina. Kelainan ini biasanya hanya mengenai satu mata, 75% terjadi pada anak laki-laki, umumnya pada dekade pertama kehidupan dengan usia tersering 5 tahun. Keluhan klinis yang menyebabkan pasien diperiksakan ke dokter mata biasanya leukocoria (pupil putih), juling, atau penglihatan buram pada satu mata.

Ocular Toxocariasis

Penyakit ini disebabkan Toxocara canis (parasit kutu anjing). Manusia akan terinfeksi melalui tanah/makanan yang terkontaminasi benih telur pada kotoran anjing. Anak kecil dengan hygiene buruk dan kontak erat dengan anjing yang terinfeksi akan berisiko terkena penyakit ini. Keluhan klinis yang menyebabkan pasien diperiksakan ke dokter mata umumnya berupa leukocoria (pupil putih), juling, atau penglihatan buram pada satu mata. Pemeriksaan yang akan dikerjakan oleh dokter mata berupa funduscopy indirek dan USG. Gambaran klinis yang akan dijumpai pada pemeriksaan mata dapat berupa cyclitic membrane, white pupil, endophthalmitis, atau granuloma pada polus posterior retina.

Coloboma of Choroid/Optic Disc

Terjadi akibat penutupan fisura/celah embrionik yang tidak sempurna. Kelainan ini bisa terjadi pada salah satu atau kedua mata. Keluhan klinis dapat berupa leukocoria (pupil putih) pada coloboma optic disc yang besar. Kelainan ini dapat menimbulkan komplikasi berupa ablatio retina.

PEMERIKSAAN YANG AKAN DILAKUKAN DOKTER MATA UNTUK MENCARI PENYEBAB KELUHAN LEUKOCORIA (PUPIL PUTIH)

Dokter mata akan melakukan pemeriksaan mata secara umum terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan pemeriksaan yang lebih spesifik untuk mengetahui kemungkinan penyebab leukocoria (pupil putih). Pemeriksaan saraf mata dilakukan dengan menggunakan alat funduscopy pada pupil yang dilatasi (prosedur pemeriksaan: mata anak sebelumnya akan diteteskan obat tetes untuk pelebaran pupil yang efeknya bersifat sementara terhadap lebar pupil) atau dengan USG pada kondisi kelainan mata yang tidak memungkinkan pemeriksaan funduscopy.

DETEKSI DINI YANG DAPAT DILAKUKAN

Deteksi mudah yang dapat dilakukan dapat dengan menggunakan kamera pada smart phone anda. Kamera dengan flash (deteksi red eye dimatikan) disiapkan dengan pencahayaan ruangan redup. Kamera kemudian diarahkan sejajar mata anak dan anak diminta melihat ke kamera. Periksakan segera mata anak anda ke dokter mata atau dokter mata anak bila ditemukan tanda leukocoria (“mata kucing” atau “pupil putih”). Peran kita semua yang berada di sekitar lingkungan anak kadang dapat menyelamatkan penglihatan bahkan nyawa anak, bila kelainan pada mata berupa leukocoria (“mata kucing” atau “pupil putih”) dapat terdeteksi sejak awal.

 


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.