Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider

 

Follow Us

Who's Online

 Tamu : 11 
Cicendo Eye Hospital
ARSAMI resmi diterima PERSI PDF Cetak E-mail

Asosiasi Rumah Sakit Mata Indonesia (ARSAMI) akhirnya resmi diterima sebagai asosiasi yang berada di bawah Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) pada 15 Oktober 2014.  Ditandai dengan serah terima Pataka  dari Ketua ARSAMI Dr. Hikmat Wangsaatmadja, SpM(K), MM, M.Kes kepada Ketua Umum PERSI Dr. dr. Sutoto, M.Kes.

Sebagai tindak lanjut hal tersebut, akan dilakukan penyusunan program kerja ARSAMI pada saat Pertemuan Ilmiah Tahunan Ke 39 Perhimpunan Dokter Mata Seluruh Indonesia (PERDAMI) pada akhir Oktober di Yogyakarta.

 
lahir ARSAMI pada Hari Penglihatan seDunia 2014 PDF Cetak E-mail

 

Bersamaan dengan momentum World Sight Day atau Hari Penglihatan seDunia yang jatuh pada 09 Oktober 2014, lahir pula sebuah asosiasi yang merupakan wadah aspirasi bagi rumah sakit mata di Indonesia. Organisasi ini bernama Asosiasi Rumah Sakit Mata Indonesia – ARSAMI (Indonesian Association Of Eye Hospitals).

Diharapkan ARSAMI menjadi wadah koordinasi dalam penyelenggaraan kesehatan mata di Indonesia, dimana regulator formal seperti Kementerian Kesehatan RI, BPJS Kesehatan, atau lembaga lainnya memerlukan advokasi.

Rumah Sakit Mata Cicendo sebagai Pusat Mata Nasional satu-satunya milik Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI, tergerak untuk melakukan inisiasi pembentukan rumah sakit mata Indonesia. Dengan langkah awal bersama-sama dengan RSM Jakarta Eye Center, RSM Undaan Surabaya, RSM Sriwijaya Eye Center, RSM Dr YAP Yogyakarta, RS Indera Bali, sepakat untuk melahirkan ARSAMI. Acara ini dihadiri pula oleh Sekjen ARSPI dan perwakilan Dewan Pengawas RS Mata Cicendo sebagai peninjau.

Pada kesempatan tersebut, terpilih Dr. Hikmat Wangsaatmadja, SpM(K), MM, M.Kes sebagai Ketua Asosiasi Rumah Sakit Mata Indonesia (ARSAMI), dan dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama terbentuknya asosiasi tersebut.

 

 
Ayo menjadi Donor Mata ! PDF Cetak E-mail

Tidak perlu ragu bagi kita sesama umat manusia yang berkeinginan membantu saudaranya yang mengalami keterbatasan dalam penglihatannya. Salah satunya dengan menjadi DONOR MATA. Donor Mata adalah suatu tindakan menyumbangkan sebagian mata (kornea/selaput bening mata) untuk ditransplantasikan pada mata orang lain yang memerlukan.

Menjadi donor mata TIDAK bertentangan dengan semua ajaran agama. Anda menjadi donor mata apabila sudah meninggal dunia dan atas persetujuan ahli waris / keluarga.

Saat ini jumlah donor mata di Indonesia jauh lebih sedikit daripada jumlah kornea mata yang dibutuhkan bagi orang lain yang mengalami kebutaan kornea.Padahal donor mata sangat dibutuhkan bagi orang yang mengalami kebutaan kornea. Jumlah calon donor mata yang terdaftar di Bank Mata Indonesia sangat rendah apabila dibandingkan penduduk Indonesia. Saat ini Indonesia banyak menerima kornea donor dari Srilanka, India, Belanda maupun Amerika Serikat. Kalau mereka saja ikhlas dan bisa menyumbangkan matanya kenapa kita tidak bisa  dengan jumlah penduduk yang jauh lebih tinggi ? Sudah seharusnya saling berlomba untuk berbuat kebajikan membantu saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

Mitos Seputar Donor Mata

  1. Diminta Pertanggung jawaban setelah kematian
    Banyak orang merasa  donor mata tidak boleh dilakukan karena takut diminta pertanggung jawaban setelah meninggal di akhirat. Mereka takut kornea mata digunakan untuk melihat untuk hal-hal yang jahat. Tetapi tahukan anda sebetulnya penglihatan dan kornea mata adalah dua hal yang berbeda ? Kornea Mata adalah bagian dari organ mata. Sedangkan gambaran / penglihatan adalah apa yang dilihat oleh mata. “Yang kita pertanggung jawab adalah apa yang kita lihat, lakukan, ucapkan dan bukan kornea mata nya.
  2. Seluruh bola mata diambil saat didonorkan
    Setelah kita meninggal dan apabila kita telah terdaftar di calon donor mata maka ahli waris wajib memberitahukan pihak Bank Mata Indonesia kurang dari 6 jam setelah calon donor mata dinyatakan meninggal dunia maka pihak bank mata Indonesia akan segera mengirimkan petugas nya untuk melakukan operasi kecil pengambilan kornea di tempat jenazah dibaringkan dan hanya mengambil kornea nya saja BUKAN bola matanya. Operasi kecil itu sangat cepat kurang dari 15 menit.
  3. Orang bermata minus/positif/silinder tidak boleh mendonorkan mata
    Hal itu tidaklah benar karena sebenarnya yang didonorkan adalah kornea nya bukan lensa mata. Oleh karena itu selama kornea masih dalam keadaan baik / tidak terlalu rusak, kornea mata anda dapat didonorkan dan menolong orang yang membutuhkan
  4. Donor Mata dilakukan saat orang masih hidup
    Hal itu tidaklah benar karena donor mata dilakukan saat pendonor sudah meninggal saja yang dilakukan di Indonesia. Bank Mata Indonesia tidak menerima donor dari orang yang masih hidup. Dan seluruh proses pendonoran tidak dipungut biaya apapun.

Meskipun demikian, tidak semua orang dapat menjadi pendonor mata saat meninggal, diantaranya dikarenakan mata yang rusak dimana bagian hitam sudah berubah putih akibat infeksi atau kecelakaan, orang yang pernah menjalani operasi katarak, penderita glaukoma, pengidap penyakit kronis akibat virus yang berakibat ke mata, penderita cytomegalovirus dan meningitis, atau meninggal karena rabies.

Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi Unit Bank Mata PMN RS Mata Cicendo (022) 4231280 atau bagian Informasi (sumber : doktersehat.com & sumber lainnya)

 
FAKTA ILMIAH UNTUK MENGHINDARI TUNTUTAN MALPRAKTEK PDF Cetak E-mail

Di Amerika Serikat, Tuntutan hukum kepada dokter atas dugaan kasus malpraktek dokter adalah hal yang ‘wajar’. Sebagian besar dokter di Amerika Serikat pernah dituntut, bahkan secara rata-rata 11 % waktu karir seorang dokter di Amerika Serikat, dihabiskan untuk melayani tuntutan hukum akibat dugaan kasus Malpraktek dokter.

Dokter Bedah saraf, adalah dokter di Amerika Serikat yang paling sering menghadapi tuntutan hukum akibat Kasus malpraktek dokter. Dengan asumsi total masa karir 40 tahun, seorang Dokter Bedah saraf di Amerika Serikat menghabiskan 27% dari seluruh masa karirnya untuk ‘melayani’ mantan pasiennya di pengadilan.

Dokter jiwa, adalah dokter di Amerika Serikat yang paling sedikit menghadapi tuntutan hukum akibat Kasus malpraktek dokter. Dengan asumsi total masa karir 40 tahun, Dokter Jiwa di Amerika Serikat ‘hanya’ menghabiskan 3% dari seluruh masa karirnya di jalur hukum.

Menurut American Medical Association (AMA, seperti IDI di Amerika Serikat) Biaya yang dikeluarkan setiap tahun untuk mengurusi kasus Hukum akibat dugaan kasus Malpraktek dokter di Amerika Serikat juga tidak sedikit, yakni US $ 200 Milyar , atau Rp.2200 Trilyun! Akibat banyaknya masalah hukum karena dugaan kasus malpraktek dokter ini, Beberapa penelitian dilakukan di Amerika Serikat untuk meneliti, kenapa ada dokter yang sering dituntut dan kenapa ada dokter yang tidak pernah dituntut.

Ternyata, Perbedaan antara dokter yang sering dituntut dan mereka yang tidak adalah pada Hubungan interpersonal dokter dengan pasien, tepatnya, pada kepandaian seorang dokter dalam berkomunikasi dengan pasien.

Penelitian Levinson et al. dari Oregon Health Sciences University, yang melakukan penelitian pada 59 Dokter di Oregon and Colorado, menemukan bahwa dokter yang tergolong “tidak pernah dituntut” –mereka yang benar-benar tidak pernah dituntut atau yang hanya sekali dituntut- adalah dokter yang menyediakan waktu konsultasi rata-rata 18,3 menit per pasien. Sedangkan dokter yang tergolong “sering dituntut” –mereka yang dituntut dua kali atau lebih- adalah mereka yang menyediakan waktu konsultasi rata-rata hanya 15 menit per pasien..

Perbedaan waktu 3,3 menit ini biasanya digunakan oleh dokter yang tergolong “tidak pernah dituntut” untuk bercanda dan menanyakan hal-hal pribadi pasien guna mengakrabkan suasana. Perbedaan waktu yang hanya 3,3 Menit inilah yang membedakan apakah seorang Dokter dituntut ataupun tidak..

Penelitian Hickson et.al dari Department of Pediatrics, Vanderbilt University School of Medicine, mengkonfirmasi kebenaran hasil penelitian Levinson diatas..

Hickson et.al. menemukan bahwa dokter Kandungan yang sering dituntut atas dugaan kasus malpraktek dokter adalah mereka yang tampak tidak peduli, tidak pernah menjelaskan hasil Tes dan tampak terburu-buru dalam melakukan pemeriksaan. Menurut PERSEPSI (tidak diukur secara pasti, hanya menurut perasaan pasien) SEPERTIGA dari seluruh pasiennya, Dokter kandungan yang sering dituntut hanya menyediakan waktu kurang dari 10 menit untuk satu pasien dalam setiap sesinya..

Hal yang sangat berbeda dijumpai pada dokter kandungan yang tidak pernah dituntut, dimana hanya 12% pasien (hanya sepertiga kali dari jumlah pasien dokter kandungan yang sering dituntut) yang MERASA waktu konsultasi dengan dokternya kurang dari 10 menit untuk setiap sesinya..

Pentingnya berhubungan baik bahkan berteman dengan pasien juga diutarakan salah seorang pengacara paling terkenal di Amerika Serikat untuk kasus malpraktek kedokteran (yang namanya sengaja tidak kami cantumkan ). Pengacara ini juga membuat pengakuan mencengangkan saat menceritakan salah satu kasus yang ditanganinya, dimana ia menuntut seorang dokter bedah atas kemauan salah satu kliennya..

Menurut si pengacara, Alasan penuntutan itu aneh, karena sebenarnya menurut si pengacara, si dokter bedah itu tidaklah salah, yang bersalah malah dokter M yang pertama kali menangani si pasien. Ketika hal ini dijelaskan ke pasien itu, si pasien malah menjawab,,

“Saya menyukai dokter M itu jadi saya tidak mungkin menuntutnya, tapi saya tidak puas karena itu harus ada yang saya tuntut, MAKA SAYA TUNTUT DOKTER BEDAHNYA!”

REFERENCES :

  • http://irfanda.com/tips-mencegah-kasus-malpraktek-dokter
  • David C Dugdale, MD, Ronald Epstein, MD, and Steven Z Pantilat, MD. Time and the Patient–Physician Relationship. Journal of General Internal Medicine. 1999 January; 14(Suppl 1)S34 [PubMed]
  • Levinson W, Roter DL, Mullooly JP, Dull VT, Frankel RM. Physician-patient communication: the relationship with malpractice claims among primary care physicians and surgeons. JAMA.1997;277:553–9. [PubMed]
  • Hickson GB, Clayton EW, Entman SS. Obstetrician’s prior malpractice experience and patients’ satisfaction with care. JAMA. 1994;272:1583–7. [PubMed]
  • Adamson TE, Bunch WH, Baldwin DC Jr, Oppenberg A. The virtuous orthopaedist has fewer malpractice suits. Beeson Seminary-Samford University, Birmingham, AL, USA.
  • http://www.forbes.com/sites/robertglatter/2013/02/06/medical-malpractice-broken-beyond-repair/
  • http://www.nytimes.com/1994/11/25/us/studies-show-that-rude-doctors-are-more-likely-to-face-lawsuit.html

Sumber : ofkom.org

 

 
PMN RS Mata Cicendo Lulus Tingkat Paripurna PDF Cetak E-mail

Setelah melalui proses survey, akhirnya Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung dinyatakan lulus  dan berhak mendapatkan sertifikat akreditasi rumah sakit TINGKAT PARIPURNA dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) No. KARS-SERT/49/VII/2014 yang diserahkan langsung oleh Ketua Komisi Akreditasi Rumah Sakit Dr.dr. Sutoto, M. Kes.

Berdasarkan standar Akreditasi 2012, tingkat paripurna merupakan nilai kelulusan tertinggi yang dapat dicapai oleh rumah sakit.

Keberhasilan Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung meraih nilai tertinggi akreditasi ini merupakan wujud dari komitmen bersama seluruh jajaran direksi dan karyawan untuk memberikan pelayanan kesehatan mata yang paripurna, diharapkan kepercayaan semua pihak meningkat dengan berorientasi pada kepuasan bagi seluruh lapisan masyarakat.

 

 

 
« MulaiSebelumnya31323334353637383940BerikutnyaAkhir »

Halaman 34 dari 40


Copyright © 2012 RS Mata Cicendo-Bandung, All Rights Reserved.